Belajar Parenting Sebelum Jadi Parent, Haruskah?

Alhamdulillah, saat ini saya dikaruniai dua orang anak, sayangnya anaknya kakak. hehe. Tapi bahagia banget, tiap pulang ke rumah, selain pengen ketemu Ibu, ada motivasi lain–ketemu dua ponakan.

Bener banget apa yang difirmankan Allah dalam surat Ali-Imran: 14, bahwa telah dijadikan indah sesuatu dalam pandangan kita, Allah menyebutkan Al-baniin (anak-anak) setelah An-nisaa’ (perempuan). Artinya, sesuatu yang menarik perhatian kita setelah wanita (atau laki2 bagi wanita mah) adalah anak-anak.

Entah kenapa saya sangat tertarik dengan yang namanya anak-anak. Mungkin beberapa orang juga demikian. Apalagi di rumah ada dua orang anak yang menurut saya lucunya banget, terlebih ponakan yang paling kecil. Jadi setiap kali pulang ke rumah, saya pasti ngasuh kedua anak itu.

Memang, aktifitas mengasuh anak itu hal yang menyenangkan (walaupun terkadang merepotkan. hehe), tapi saya rasa aktivitas tersebut tidak boleh dilakukan begitu saja tanpa ilmu. Hal ini terpikirkan setelah keponakan saya yang pertama menanyakan beberapa hal yang serius dan gak boleh ngasal dijawab, soalnya menyangkut tauhid.

Ponakan pertama saya adalah anak dengan tipikal kepoitif (keingintahuan yang tinggi wkwk), eksploratif, aktif, dominatif, dan yang khas ngomongnya cerewet. Yang saya garis bawahi disini adalah ke-kepo-annya yang tinggi.

Pernah suatu saat dia nanya, “Mang, Rosululloh teh orang bukan?” Saya jawab “Iya, orang, baik banget ke orang lain.” Dia nanya lagi “Oh, Rosululloh teh pernah ketemu si Ayah?” wkwk. Saya jawab “Enggak lah, udah meninggal.”

Terus nanya “Mang, Allah teh orang bukan?” Saya jawab “bukan.” Dia nanya lagi, “Allah teh kayak bola?” wkwk, coba kita jawab apa nih?

Dan beberapa pertanyaan lain yang ga boleh ngasal dijawab:

“Besi ciptaan siapa, Mang?”

“Allah bikin pohonnya gimana, Mang?”

“Kalo orang yg meninggal itu kan di dalem tanah, Mang. pipisnya gimana ya?” wkwk

Saya meyakini bahwa pola pikir anak itu juga terbentuk dari treathment orang-orang di sekitarnya. Sehingga jawaban dari pertanyaan anak pun berpengaruh terhadap pola pikir anak di kemudian hari. Apalagi yang ditanyakan ponakan saya itu perihal tauhid, Subhanallah serem bener nih kalo jawabannya ngasal. Mohon ampun ke Allah, jika jawaban saya waktu itu tidak tepat 🙁

Dari sini saya sadar bahwa, sikap saya saat berhadapan dengan anak kecil (terlebih dengan tipe anak yang banyak nanya) dan jawaban yang diberikan dari pertanyaan anak kecil sangat perlu diperhatian dan dicari ilmunya. Yang saya tahu, bahasa kerennya itu parenting, nah ilmu ini nih yang perlu dipelajari.

Ilmu parenting tidak hanya diperlukan oleh orang tua. Selain untuk mempersiapkan diri menjadi orang tua yang bisa menjadi teladan bagi anaknya, belajar ilmu parenting sejak dini pun bermanfaat untuk bersikap benar di hadapan anak-anak di sekitar kita.

So, yoo mari kita menuntut ilmu sebanyak-banyaknya. Saya rasa udah banyak banget ilmu mengenai parenting ini, dari yang fokus ke parenting-nya sampai yang bernuansa islami yang dibawain ustadz-ustadz. Dan diriku lebih memilih yang dibawain ustadz-ustadz, karena bersumber dari ajaran Islam, tentunya ajaran Islam itu adalah ajaran yang benar dan paling benar.

Wallahua’lam.

Featured Image Credit: Milo Baumgartner | flickr(dot)com/photos/dreamer7112

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *