Pantai Santolo

Di masa 40 hari KKN, liburan ini adalah liburan yang ketiga kalinya, sekaligus menutup petualangan kita di garut, setelah sebelumnya kita mengunjungi Talaga Bodas dan melakukan pendakian ke Gunung Piramid.

Liburan yang terakhir ini adalah mantai. Dan pantai yang kami kunjungi yaitu Pantai SantoloPantai Sayang Heulang dan Pantai Tebing Guha.

Alhamdulillah, liburan dalam rangka mempererat hubungan sebelum susah bertemu ini anggota yang ikut lengkap. Bahkan ditambah beberapa teman dari teman KKN saya yang sama-sama ikut mantai. Tapi sayangnya tidak ada satu orangpun dari warga Sindanggalih (tempat KKN kami) yang ikut bersama kami, dikarenakan waktu liburan ini bersamaan dengan waktu produktif mereka untuk bekerja. Rombongan kami terdiri dari 11 orang (anggota KKN) ditambah 3 orang (teman dari teman KKN saya), jadi total 14 orang.

Foto bersama Ibu Posko dan cucunya sebelum berangkat ke pantai.

Kami berangkat sore *lupa jamnya* dengan 7 motor. Pas banget, karena jumlahnya 14 orang, jadi 1 motor berdua, ga ada yang cabe-cabean. Sebenernya ceritanya panjang pra keberangkatan, di malam perpisahan dengan warga Sindanggalih, ada dua fokus besar. Pertama menjadikan acara perpisahan berjalan lancar, dan kedua, nyari transportasi untuk keberangkatan liburan terakhir di masa KKN. Karena sewa mobilnya cukup mahal dan mobil warga tidak banyak yang nganggur, akhirnya kami memutuskan untuk pergi ke pantai memakai motor. Biar kayak konvoi-konvoi gituh.

Perjalanan dari Sindanggalih ke Pantai Santolo (karena yang kita kunjungi pertama adalah Pantai Santolo) adalah sekitar 6 jam. Jalanan ke sana berkulak-kelok, banyak tikungan tajam, dan cukup ekstrem. Bagi kamu yang akan berlibur ke sana, kamu akan melewati gunung, lebih tepatnya mengitari gunung. Jalannya itu lho, berbatu dan susah banget untuk duduk nyaman. Tapi beberapa kilo mendekati pantai jalannya berubah jadi mulus banget, kayak track Moto GP. Serius lho bukan bercanda, buktikan saja.

Kami tiba di pantai sekitar jam 9 malam. Dan menyewa penginapan sebanyak 2 kamar, cewe cowo dipisah, 200rb/kamar. Sekitar 1 jam kami istirahat dan shalat Isya. Setelah itu kami mencari santapan malam. Makanan disana umumnya makanan laut *ya iyalah*. Dan umumnya lagi adalah kiloan, jadi enaknya makan bareng-bareng.

Santap malam, di Pantai Santolo, Garut.

Menu malam itu adalah cumi tepung, cumi bumbu, kangkung, dan *lupa satu menu lagi*. Cukup memuaskan nafsu makan kami, karena sudah lapar banget, nunggunya lama ngabisinnya sebentar.

Setelah puas dengan santap malammnya. Beberapa menit kami bermain dengan api unggun di pinggir pantai.

Api unggun, nyalainnya susah sih.

Setelah itu, kami beristirahat kembali, mengumpulkan tenaga untuk bersenang-senang melepas penat esok hari, yang pada rencananya akan kami kunjungi Pantai Sayang Heulang, yang katanya banyak batu karangnya, dan merupakan tempat yang tepat di sana untuk menyaksikan sunrise. Dan juga Pantai Tebing Guha, yang memungkinkan kita untuk melihat ombak-ombak besar, secara jelas, dari atas tebing. Dan katanya anginnya itu bisa bikin kita pengen pake jaket berlapis-lapis.

Sekian dulu tulisan mengenai liburan ke Pantai Santolo (Part 1) ini, lanjutannya akan ditulis di tulisan berikutnya.

(Ditulis pada: 21 Desember 2015)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *